Di permukaan, “selamat atas cuti mengasuh anak”… Dalam pikiran saya, saya berpikir, “Siapa yang bekerja untuk mereka yang sedang cuti?”
⚡ ⚡ Ringkasan Cepat
Pak Cho (28), seorang pekerja kantoran di sebuah lembaga publik, merasa sulit untuk mengucapkan selamat kepada rekan kerjanya setelah mendengar kabar tentang cuti orang tuanya baru-baru ini.
Pak Cho (28), seorang pekerja kantoran di sebuah lembaga publik, merasa sulit untuk mengucapkan selamat kepada rekan kerjanya setelah mendengar kabar tentang cuti orang tuanya baru-baru ini. Perusahaan secara aktif merekomendasikan cuti mengasuh anak, namun sebagai pria lajang, Pak Cho harus mengambil pekerjaan tersebut ketika seseorang mengambil cuti mengasuh anak. Tuan Cho mengatakan, "Saya menerima 60.000 won per bulan sebagai tunjangan pembagian kerja bagi mereka yang mengambil cuti mengasuh anak, namun mengingat beban kerja yang meningkat, jumlah tersebut sangat kecil. Saya pikir menggunakan cuti mengasuh anak merupakan hak yang wajar, namun kenyataannya adalah karyawan yang tertinggal merasa khawatir." Meskipun pemerintah memperluas sistem pendukung keseimbangan pekerjaan-keluarga, ‘kesenjangan kerja’ masih tetap menjadi hambatan terbesar di lapangan. Meskipun kesadaran akan cuti melahirkan laki-laki dan cuti melahirkan pasangan telah meningkat, struktur dimana karyawan yang tersisa mengambil alih pekerjaan ketika rekan kerja di departemen yang sama mengambil cuti tidak berubah secara signifikan. Meskipun tunjangan pembagian kerja dan sistem dukungan pemerintah sudah ada, tingkat kompensasi yang sebenarnya dirasakan oleh pekerja masih rendah, dan beberapa pihak menyatakan bahwa ‘baik pekerja yang keluar maupun pekerja yang tersisa dipengaruhi oleh sistem tersebut.’ ● Ada banyak penggunaan cuti sebagai orang tua.
← Kembali