Mengelola perbedaan pendapat periferal
📖 Sumber artikel — 🇬🇧 InggrisPROSES pemilu di Gilgit-Baltistan telah berakhir dengan damai, meskipun ada kekhawatiran awal akibat protes keras yang meletus setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Sebaliknya, perkembangan di Kashmir Pakistan mengkhawatirkan, khususnya menjelang pemilu yang dijadwalkan pada tanggal 27 Juli di wilayah tersebut. Kasus GB ditangani dengan kombinasi keterlibatan politik dan tindakan koersif. Namun Kashmir muncul sebagai kasus yang tidak ditangani dengan baik, sehingga dialog dan proses politik akhirnya terhenti, dan negara mengandalkan tindakan koersif.
Meskipun kedua wilayah periferal tersebut merupakan bagian dari kerangka konstitusi yang serupa, Kashmir sangat sensitif, baik secara geopolitik maupun strategis. Menangani perselisihan politik di kawasan seperti ini memerlukan kewaspadaan, kesabaran, dan kehati-hatian yang tinggi. Konfrontasi yang sedang berlangsung seputar Komite Aksi Gabungan Awami Jammu Kashmir menggambarkan bagaimana kegagalan manajemen politik dapat dengan cepat mengubah masalah konstitusi menjadi krisis yang lebih luas.
Tuntutan utama JAAC berkaitan dengan 12 kursi yang diperuntukkan bagi pengungsi dari Jammu dan Kashmir yang diduduki India dan menetap di daratan Pakistan setelah tahun 1947. Warga Kashmir setempat dan JAAC berpendapat bahwa kursi-kursi ini mendistorsi demokrasi lokal karena para pemilih di daerah pemilihan ini sebenarnya tidak tinggal di Azad Kashmir.
Meskipun tidak ada partai politik arus utama di Pakistan atau AJK yang mendukung pendirian JAAC agar 12 kursi pengungsi dihapuskan, tuntutan tersebut mendapat dukungan publik. Selama negosiasi antara pemerintah dan JAAC, kursi-kursi ini tetap menjadi batu sandungan utama. Tim perunding pemerintah federal terdiri dari perwakilan dari kedua mitra koalisi, PML-N dan PPP, yang keduanya menentang penghapusan undang-undang tersebut.
Situasi semakin pelik ketika AJK MA, dalam pendapatnya atas rujukan presiden, mengesahkan sikap pemerintah. Pengadilan menolak politik protes jalanan dan mengaitkan setiap perubahan legislatif dengan dewan terpilih, yang secara efektif memutuskan bahwa DPR yang baru terpilih akan menentukan masa depan kursi-kursi tersebut.
Meskipun bersikeras bahwa perselisihan tersebut diselesaikan melalui cara-cara demokratis, pemerintah secara efektif mengabaikan dialog, dan malah melarang JAAC pada bulan ini, sebuah tindakan yang meningkatkan ketegangan. Aksi jangka panjang JAAC terus berlanjut, dan puluhan korban jiwa telah dilaporkan di kalangan pengunjuk rasa dan aparat penegak hukum.
Jika ada kemauan politik untuk mencari solusi, banyak pilihan yang bisa dijajaki.
Pimpinan JAAC nampaknya yakin bahwa baik pemerintah maupun kelompok berkuasa tidak berniat untuk menghapuskan kursi yang disengketakan, dan bahwa negosiasi hanya akan menghasilkan sedikit hasil selain jaminan dan janji. Menariknya, para pemilih yang terkait dengan 12 kursi pengungsi, banyak di antaranya menetap di berbagai wilayah di daratan Pakistan, belum menunjukkan penolakan yang kuat terhadap usulan penghapusan kursi-kursi tersebut. Hal ini semakin menguatkan JAAC, begitu pula dukungan dari diaspora Kashmir, yang segmennya secara politik bersekutu dengan PTI.
Aksi protes yang kembali terjadi di AJK sekali lagi menyemangati diaspora Kashmir, sebuah perkembangan yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat. Ada juga persepsi di dalam pemerintahan bahwa India berupaya mengeksploitasi kerusuhan dan menginternasionalkan permasalahan tersebut.
Pertanyaan yang patut diajukan adalah apakah pengaturan alternatif dapat mengatasi perselisihan tersebut dengan memuaskan. Misalkan pemerintah menghapuskan kursi pengungsi sementara mengizinkan warga Kashmir yang tinggal di Pakistan untuk mendaftar sebagai pemilih di daerah pemilihan atau distrik AJK tempat mereka atau nenek moyang mereka awalnya bermigrasi. Apakah mekanisme seperti ini dapat membantu menyelesaikan masalah ini?
Hal ini mungkin terlihat sederhana, namun poin yang lebih luas tetap ada: jika ada kemauan politik untuk menemukan solusi, banyak pilihan yang bisa dijajaki. Pola pikir yang menganggap pemaksaan sebagai satu-satunya instrumen pemerintahan yang ada pasti akan memperumit perselisihan politik, bukan menyelesaikannya.
Ada juga persepsi di kalangan penguasa bahwa karena pemerintah berhasil menekan perbedaan pendapat yang terkait dengan gerakan-gerakan seperti Gerakan Pashtun Tahafuz (PTM), Komite Baloch Yakjehti (BYC) dan Haq Do Tehreek (HDT), pemerintah juga dapat mengendalikan situasi di Kashmir. Asumsi ini patut dipertimbangkan kembali secara serius.
Larangan, penangkapan dan tuduhan terkait terorisme untuk sementara waktu dapat menekan mobilisasi, namun hal tersebut jarang menghilangkan keluhan yang mendasar. Kebencian masih hidup di bawah permukaan. Hal ini tetap ada di Balochistan dan distrik suku KP dan kemungkinan besar juga akan tetap ada di AJK, bahkan jika JAAC pada akhirnya dibubarkan.
Namun apakah hasil seperti itu benar-benar merupakan kesuksesan bagi negara? Jika gerakan serupa terus muncul kembali, negara akan terus berada di bawah tekanan dan terpaksa menginvestasikan sumber daya yang lebih besar untuk memperkuat infrastruktur keamanan.
Namun peningkatan sekuritisasi seringkali menghasilkan ketidakamanan yang lebih besar baik bagi negara maupun masyarakat dan meningkatkan kesenjangan di antara mereka, sehingga menimbulkan perasaan keterasingan di kalangan warga negara yang mulai melihat diri mereka bukan sebagai anggota komunitas politik yang mempunyai hak, namun hanya sebagai subyek otoritas negara. Dalam banyak hal, JAAC, BYC, PTM dan HDT mencerminkan manifestasi keterasingan yang lebih luas, meskipun agenda mereka berbeda secara signifikan.
PTM dan BYC pada dasarnya mengartikulasikan tuntutan-tuntutan yang berkaitan dengan hak asasi manusia, sedangkan JAAC, HDT dan bahkan komite aksi yang secara berkala muncul di GB berfokus pada hak-hak ekonomi dan konstitusional. Namun di balik tuntutan yang beragam ini terdapat keluhan yang sama: persepsi bahwa elit yang berkuasa berusaha memerintah daerah pinggiran tanpa memperhatikan aspirasi politik dan rasa kewarganegaraan mereka.
Lembaga-lembaga negara sering kali memperburuk keluhan masyarakat melalui strategi kontra-narasi yang tidak dirancang dengan baik. Alih-alih menggunakan media sosial dan arus utama untuk memfasilitasi perdebatan yang konstruktif dan inklusif, segmen-segmen dari platform ini justru dimobilisasi untuk mendelegitimasi komunitas yang berbeda pendapat. Pendekatan seperti ini justru memperdalam ketidakpercayaan dibandingkan membangun kohesi nasional.
Protes AJK memberikan contoh terkini. Sebagian wacana di media sosial mulai menstigmatisasi warga Kashmir, menggambarkan mereka sebagai ‘parasit’ dan sebagai populasi yang tidak tahu berterima kasih dan mendapat banyak manfaat dari negara. Pendekatan ini tidak akan menyelesaikan masalah.
Perbedaan antara GB dan Kashmir memberikan pelajaran penting. Daerah pinggiran tidak menginginkan konfrontasi terus-menerus; mereka mencari pengakuan, partisipasi, dan martabat dalam tatanan politik. Mengabaikan aspirasi-aspirasi ini mungkin menghasilkan ketenangan sementara, namun jarang menghasilkan stabilitas yang bertahan lama.
Penulis adalah seorang analis keamanan.
Diterbitkan di Fajar, 14 Juni 2026
← Kembali