ISLAMABAD: Tingkat melek huruf bagi individu berusia 10 tahun ke atas di Pakistan meningkat dari 61 menjadi 63 persen, sementara pengeluaran untuk pendidikan mengalami penurunan, menurut Survei Ekonomi 2025-26. Dinyatakan bahwa tingkat melek huruf laki-laki berjumlah 73 persen dan perempuan berjumlah 54 persen, yang mencerminkan kemajuan bertahap dan mempersempit kesenjangan gender. Daerah perkotaan masih memiliki tingkat melek huruf yang lebih tinggi, yaitu sebesar 74 persen (81 persen untuk laki-laki dan 68 persen untuk perempuan), sedangkan daerah pedesaan memiliki tingkat melek huruf yang lebih rendah yaitu sebesar 55 persen (67 persen untuk laki-laki dan 44 persen untuk perempuan). Tingkat literasi perempuan di pedesaan menunjukkan peningkatan yang paling signifikan. Punjab mencatat tingkat melek huruf tertinggi sebesar 68 persen, diikuti oleh Sindh dan Khyber Pakhtunkhwa, keduanya sebesar 58 persen. Balochistan memiliki angka terendah yaitu 49 persen. Kesenjangan perkotaan-pedesaan masih tetap ada, di wilayah perkotaan Punjab sebesar 78 persen dan di pedesaan Sindh sebesar 39 persen. Secara keseluruhan, data tersebut menyoroti kemajuan yang stabil namun tidak merata, dimana kemampuan baca tulis perempuan di pedesaan memainkan peran penting dalam perbaikan yang diamati, meskipun masih terdapat kesenjangan regional dan gender. Pengeluaran Survei menyebutkan belanja pendidikan mencapai Rs962 miliar pada tahun anggaran 2025 dibandingkan Rs1251,06 miliar pada tahun sebelumnya. Pengeluaran pada tahun 2024-25 tetap sebesar 0,8 persen PDB sedangkan pada tahun 2022-23 tercatat sebesar 1,5 persen PDB. Pada tahun 2021-2022, PDB mencapai 1,7 persen, menunjukkan penurunan yang konstan. Pada tahun 2020-21, belanja pendidikan tercatat sebesar 1,4 persen PDB, sedangkan pada tahun 2019-20 sebesar 1,9 persen PDB. Sementara itu, survei tersebut menyoroti masalah anak-anak putus sekolah (OOSC), yang menyatakan bahwa OOSC di Pakistan telah menurun dari 38 persen pada tahun 2023 (laki-laki: 35 persen, perempuan: 42 persen) menjadi 28 persen pada tahun 2025 (laki-laki: 25 persen, perempuan: 31 persen), menunjukkan kemajuan yang signifikan di semua provinsi khususnya di Balochistan di mana proporsinya menurun dari 69 persen menjadi 45 persen. persen, diikuti oleh Sindh (47 persen berbanding 39 persen), Punjab (32 persen berbanding 21 persen), dan Khyber Pakhtunkhwa (30 persen berbanding 28 persen). Menyoroti masalah kurangnya fasilitas, laporan tersebut mengatakan sekitar 65 persen sekolah di Indonesia memiliki akses terhadap listrik meskipun terdapat kesenjangan antar provinsi. Punjab dan ICT memiliki akses yang lebih tinggi, sementara Balochistan melaporkan cakupan yang jauh lebih rendah sehingga memerlukan perhatian yang terfokus. Punjab dan ICT juga memimpin dalam persentase sekolah dasar yang memiliki fasilitas air bersih, sementara Balochistan dan AJK menghadapi tantangan dengan cakupan hanya 23 persen. Akses toilet di sekolah sangat bervariasi antar provinsi. Pakistan menunjukkan akses yang moderat terhadap tembok pembatas di sekolah-sekolah dengan Punjab, Khyber Pakhtunkhwa dan ICT di garis depan. Seiring dengan kemajuan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, ketersediaan listrik, air minum, toilet, dan tembok pembatas pun semakin membaik. "Pendidikan adalah fondasi masa depan yang lebih baik bagi setiap anak dan masyarakat yang kuat. Jumlah pemuda yang besar di Pakistan dapat diubah menjadi sumber daya yang produktif melalui investasi yang efektif di bidang pendidikan. Namun, hal ini memerlukan peningkatan akses terhadap kualitas dan kesetaraan di semua tingkat pendidikan. Dalam menghadapi perubahan demografis, kemajuan teknologi dan tantangan tata kelola, pendidikan tetap menjadi alat penting bagi stabilitas sosial dan pembangunan berkelanjutan. Menyadari pentingnya hal ini, pemerintah terus memprioritaskan sektor pendidikan melalui reformasi kebijakan dan investasi yang ditargetkan," tulis laporan tersebut. Diterbitkan di Fajar, 12 Juni 2026