Menteri Keuangan akan mengunjungi Washington untuk membicarakan perdagangan dan tarif dengan AS
⚡ ⚡ Ringkasan Cepat
WASHINGTON: Menteri Keuangan Muhammad Aurangzeb diperkirakan tiba di Washington pada hari Sabtu untuk kunjungan tiga hari di mana ia akan mengadakan pembicaraan dengan para pejabat mengenai perdagangan, keuangan dan investasi ketika Pakistan dan Amerika Serikat melanjutkan negosiasi mengenai kemitraan ekonomi bilateral yang lebih luas, kata sumber diplomatik kepada Dawn.
WASHINGTON: Menteri Keuangan Muhammad Aurangzeb diperkirakan tiba di Washington pada hari Sabtu untuk kunjungan tiga hari di mana ia akan mengadakan pembicaraan dengan para pejabat mengenai perdagangan, keuangan dan investasi ketika Pakistan dan Amerika Serikat melanjutkan negosiasi mengenai kemitraan ekonomi bilateral yang lebih luas, kata sumber diplomatik kepada Dawn.
Menurut sumber tersebut, Aurangzeb dijadwalkan bertemu dengan pejabat dari Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR), Bank Ekspor-Impor (Exim) AS, Perusahaan Pembiayaan Pembangunan Internasional (DFC) AS, dan Dana Moneter Internasional (IMF).
Fokus utama dari kunjungan ini adalah diskusi mengenai kerangka perjanjian perdagangan bilateral yang potensial yang bertujuan untuk memperluas perdagangan dan investasi antara kedua negara. Pembicaraan tersebut diperkirakan akan membahas tarif, akses pasar, peluang investasi dan kerja sama ekonomi yang lebih luas.
Pertemuan dengan Bank Exim dan DFC juga diharapkan dapat menjajaki jalan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur, energi dan investasi sektor swasta.
Kunjungan Aurangzeb terjadi ketika para pejabat Pakistan dan AS melanjutkan negosiasi yang dimulai di Washington pekan lalu mengenai tarif ekspor Pakistan dan perjanjian perdagangan yang lebih luas.
Putaran perundingan terakhir ini menyusul perundingan selama berbulan-bulan mengenai rezim tarif global yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada tanggal 2 April 2025, berdasarkan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA), yang pada awalnya mengenakan tarif sebesar 29 persen terhadap ekspor Pakistan.
Delegasi Pakistan yang mengunjungi Washington pada bulan Juli 2025 berhasil membujuk para pejabat AS untuk mengurangi tarif yang diusulkan dari 29 persen menjadi 19 persen.
Lanskap tarif telah berubah setelah keputusan Mahkamah Agung AS awal tahun ini yang membatalkan tarif berbasis IEEPA. Sebagai tanggapan, pemerintahan Trump menggunakan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan untuk mengenakan tarif global sementara sebesar 10 persen, yang akan berakhir pada tanggal 24 Juli setelah periode 150 hari menurut undang-undang.
Pakistan juga termasuk di antara hampir 60 negara yang menghadapi penyelidikan USTR berdasarkan Pasal 301 atas dugaan kerja paksa dan praktik perdagangan terkait. Islamabad telah menyampaikan tanggapan rinci kepada USTR, termasuk pengajuan tambahan minggu ini menjelang negosiasi terbaru.
Berdasarkan proses Pasal 301 yang sedang berlangsung, Pakistan menghadapi usulan tarif tambahan sebesar 10 persen, sementara India dan 53 negara lainnya dikenakan tarif yang diusulkan sebesar 12,5 persen. Audiensi publik di hadapan USTR terus berlanjut.
Selain tarif, kedua belah pihak juga diperkirakan akan membahas langkah-langkah untuk memperluas perdagangan dan investasi bilateral.
Aurangzeb terakhir kali mengunjungi Washington pada bulan April untuk menghadiri Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia, di mana ia mengadakan lebih dari 50 pertemuan dengan lembaga keuangan internasional, investor dan lembaga pemeringkat untuk memaparkan program reformasi ekonomi Pakistan dan upaya memulihkan stabilitas makroekonomi.
Dalam kunjungan tersebut, beliau memberi penjelasan kepada investor mengenai rencana Pakistan untuk kembali ke pasar modal internasional melalui Panda Bonds dan Eurobonds setelah beberapa tahun. Ia juga bertemu dengan pejabat Departemen Keuangan AS dan perwakilan lembaga multilateral untuk membahas tanggapan Pakistan terhadap dampak ekonomi dari ketegangan regional dan volatilitas pasar energi global yang disebabkan oleh konflik yang melibatkan Iran.
← Kembali