Pakistan menerima remitansi pekerja sebesar $41,6 miliar pada tahun fiskal terakhir (TA26), naik sekitar 8,6 persen dibandingkan dengan TA25, menurut data yang dirilis oleh Bank Negara Pakistan (SBP) pada hari Kamis. Penasihat Menteri Keuangan Khurram Schehzad mengatakan angka tersebut merupakan “pengiriman uang tahunan tertinggi yang pernah dilakukan Pakistan dalam sejarah”. “Tonggak bersejarah ini mencerminkan kepercayaan yang tak tergoyahkan dari warga Pakistan di luar negeri dan memperkuat ketahanan sektor eksternal Pakistan, penyangga devisa yang lebih kuat, dan peningkatan fundamental makroekonomi,” katanya di X. Penasihat tersebut menyebut arus masuk tersebut sebagai “pencapaian rekor”, dan menambahkan bahwa pertumbuhan selama tiga tahun terakhir adalah “fenomenal, didukung oleh jutaan pekerja keras Pakistan di seluruh dunia”. Angka-angka terbaru ini sejalan dengan ekspektasi pemerintah bahwa total pengiriman uang akan melampaui target resmi pada akhir TA26 pada tanggal 30 Juni. Pemerintah pada awalnya memproyeksikan arus masuk sebesar $41 miliar sebelum merevisi target menjadi $40 miliar. Meskipun jumlah pengiriman uang dari pekerja pada FY26 mencapai rekor tertinggi, kenaikan tahunan sebesar 8,6 persen lebih rendah dibandingkan pertumbuhan FY25 sebesar 26,6 persen, serta peningkatan sebesar 10,7 persen pada FY24. Dari bulan ke bulan, pengiriman uang menurun sebesar 18,35 persen, dengan bulan Juni mencatat arus masuk sebesar $3,47 miliar dari warga Pakistan di luar negeri dibandingkan dengan $4,25 miliar pada bulan Mei, yang merupakan arus masuk bulanan tertinggi yang pernah ada. Data menunjukkan bahwa Arab Saudi ($829,6 juta) dan Uni Emirat Arab ($792,3 juta) merupakan sumber arus masuk pengiriman uang terbesar selama bulan Juni, diikuti oleh Inggris ($514,9 juta) dan Amerika Serikat ($296,8 juta). Negara lain dengan arus masuk lebih dari $100 juta adalah Italia ($121,1 juta) dan Oman ($110,8 juta). Rekor pengiriman uang tersebut terjadi meskipun ada kekhawatiran pasar bahwa ketidakpastian di kawasan Teluk akibat perang AS-Iran, yang pecah pada tanggal 28 Februari, akan berdampak buruk pada perekonomian Pakistan di berbagai bidang. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2024 menemukan bahwa migran Pakistan cenderung mengirimkan uang lebih banyak ketika kondisi ekonomi di negara asal membaik, dan ketika ada hubungan positif antara pengiriman uang dan aktivitas ekonomi domestik. SBP pekan lalu menghapuskan dua skema insentif yang dibayarkan kepada bank untuk meningkatkan pengiriman uang, setelah jumlahnya meningkat ke tingkat yang berada di bawah radar Dana Moneter Internasional (IMF). Bank-bank menyatakan kekecewaannya atas keputusan tersebut, namun para pakar sektor keuangan yakin bahwa langkah tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap profitabilitas sektor perbankan.