Genosida 1.000 hari: Jumlah kehancuran di Gaza
⚡ ⚡ Ringkasan Cepat
Lebih dari 90 persen Jalur Gaza telah hancur dan lebih dari 73.000 warga Palestina terbunuh dalam 1.000 hari sejak Israel mulai membombardir daerah kantong yang terkepung tersebut menyusul serangan balasan Hamas pada 7 Oktober 2023, menurut kantor media pemerintah setempat.
Lebih dari 90 persen Jalur Gaza telah hancur dan lebih dari 73.000 warga Palestina terbunuh dalam 1.000 hari sejak Israel mulai membombardir daerah kantong yang terkepung tersebut menyusul serangan balasan Hamas pada 7 Oktober 2023, menurut kantor media pemerintah setempat.
Kantor media pemerintah Palestina merilis statistik penting mengenai kehancuran dan jumlah korban tewas pada hari Kamis, menandai 1.000 hari sejak dimulainya genosida Israel yang sedang berlangsung di Gaza.
Pada tanggal 2 Juli, Israel telah menguasai lebih dari 80 persen Jalur Gaza, sementara 2,4 juta orang di wilayah tersebut menjadi sasaran genosida, kelaparan dan pembersihan etnis, kata pernyataan itu.
Kepulan asap membubung di atas gedung-gedung di Kota Gaza pada 7 Oktober 2023 selama serangan udara Israel. — AFP/Berkas
Dari mereka yang dibunuh oleh militer Israel, lebih dari 21.500 adalah anak-anak dan lebih dari 12.500 adalah perempuan. Lebih dari 1.000 anak-anak yang terbunuh adalah anak-anak di bawah usia satu tahun, kata pernyataan itu.
“Lebih dari 520 bayi lahir dan kemudian dibunuh selama genosida,” kata pemerintah Palestina.
Lebih dari separuh korban tewas adalah anak-anak, perempuan, dan orang tua.
Anak-anak Palestina berlarian saat mereka melarikan diri dari pemboman Israel di Rafah di Jalur Gaza selatan pada 6 November 2023.—AFP/File
Menurut statistik, 9.500 orang hilang termasuk mereka yang terjebak di bawah reruntuhan dan tidak pernah ditemukan.
Israel telah menembaki apa yang disebutnya “zona kemanusiaan aman” di wilayah Al-Mawasi sebanyak 241 kali, kata pemerintah Palestina.
Secara total, Israel telah menjatuhkan lebih dari 223.000 ton bahan peledak di Gaza.
Selama serangan gencar tersebut, Israel membunuh 1.700 personel medis, 145 personel pertahanan sipil, 262 jurnalis, lebih dari 194 pegawai kota, termasuk empat walikota, lebih dari 928 profesional olahraga dan lebih dari 2.800 petugas polisi.
Lebih dari 2.700 keluarga telah dimusnahkan dan dimusnahkan, sementara hanya satu orang yang selamat dari 6.020 keluarga, tambah kantor pemerintah.
Seorang wanita bereaksi setelah serangan udara Israel terhadap apartemen keluarga Safadi di lingkungan al-Sabra di Kota Gaza pada 20 Juni 2026.—AFP/File
Pernyataan tersebut lebih lanjut menyebutkan bahwa 460 orang telah meninggal karena kelaparan dan kekurangan gizi, termasuk 164 anak-anak.
Laporan tersebut menambahkan bahwa 23 orang tewas dalam 'kiriman bantuan yang gagal', sementara 28 lainnya meninggal karena kedinginan di kamp-kamp pengungsian, kata kantor media pemerintah.
Lebih dari 12.000 keguguran dilaporkan selama kehamilan karena kurangnya makanan dan layanan kesehatan di Jalur Gaza.
Lebih dari 5.400 orang harus menjalani amputasi, 18 persen di antaranya adalah anak-anak. Selain itu, 1.500 kasus kelumpuhan dan 1.200 kasus kehilangan penglihatan telah dilaporkan.
Warga Palestina meninggalkan rumah mereka, di tengah serangan Israel, di Khan Younis, Jalur Gaza selatan pada 10 Oktober 2023. —Reuters/File
Pernyataan otoritas Palestina menambahkan bahwa 26.370 perempuan telah menjadi janda dan 58.800 anak menjadi yatim piatu dalam 1.000 hari terakhir. Dari anak yatim piatu tersebut, 2.700 orang kehilangan kedua orang tuanya.
Pengungsian paksa menyebabkan 2,142 juta kasus penyakit menular, termasuk lebih dari 71.000 kasus virus hepatitis.
Warga Palestina membawa persediaan makanan saat mereka berjalan melewati puing-puing di tengah kehancuran akibat serangan udara Israel di lingkungan al-Rimal Kota Gaza pada 10 Oktober 2023. — AFP/File
Selain itu, 38 rumah sakit dan 96 pusat kesehatan dihancurkan, dihancurkan atau tidak dapat digunakan lagi. Israel juga menargetkan 197 ambulans, tambah pernyataan itu.
Tidak ada sekolah di Jalur Gaza yang tidak terkena dampak bencana selama 1.000 hari terakhir, sementara 81 persen gedung sekolah kini memerlukan rekonstruksi atau rehabilitasi besar-besaran. Akibatnya, lebih dari 620.000 siswa usia sekolah kehilangan pendidikan.
Selain itu, 17 institusi pendidikan tinggi telah hancur seluruhnya atau sebagian, menyebabkan lebih dari 90.000 mahasiswa usia universitas kehilangan pendidikannya.
← Kembali