Proyek yang melarang suara keras tanpa headphone di bus di Maceió dikembangkan di Kamar Maceió Dewan Kota Maceió menyetujui RUU ini pada Rabu (10) yang melarang penggunaan perangkat suara tanpa headphone di bus di ibu kota. Usulan yang diajukan oleh anggota dewan Allan Pierre itu melarang penggunaan pengeras suara, telepon seluler, dan perangkat lain yang mengeluarkan suara yang dapat mengganggu penumpang lain di angkutan umum. Tujuannya adalah untuk memastikan ketenangan pikiran selama perjalanan dan mengurangi dampak kebisingan berlebih. Selama persidangan, pelapor Komisi Kebersihan dan Kesehatan Masyarakat, anggota dewan Marcelo Palmeira, menyoroti bahwa seringnya terpapar suara keras di lingkungan tertutup dapat menyebabkan stres, mudah tersinggung, dan kelelahan mental. Teks tersebut memperlakukan pengendalian kebisingan sebagai tindakan kesehatan masyarakat. BACA JUGA: Tiket bus dari Maceió lebih murah dengan 'Vamu Cidadão'; cari tahu cara meminta kartu Kerusakan pendengaran Audiolog Lauralice Marques memperingatkan bahwa speaker portabel dapat mencapai antara 90 dan 95 desibel, intensitas yang cukup untuk menyebabkan kerusakan permanen pada pendengaran. “Sekitar 90 hingga 95 desibel sudah merupakan intensitas yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Setelah terpapar sekitar satu jam, kerusakan sudah bisa terjadi,” jelasnya. Menurut ahli, kebisingan dari mesin dan lalu lintas menyebabkan penumpang menaikkan volume headphone, sehingga meningkatkan risiko cedera. Ia juga menunjukkan bahwa headphone in-ear (dimasukkan ke dalam saluran telinga) cenderung lebih berbahaya dibandingkan model eksternal karena letaknya lebih dekat ke gendang telinga. PELAJARI LEBIH LANJUT: Bisakah headphone memengaruhi hormon Anda? “Percakapan di dalam bus tidak mengganggu pendengaran. Masalahnya adalah suara yang intens dan berkepanjangan,” ujarnya. Terminal bus Benedito Bentes, bagian atas Maceió Reproduksi/Secom Maceió